Dimana-mana, seseorang yang disebut tahanan disinyalir pernah melakukan
sebuah perbuatan yang merugikan bangsanya. Namun, sangat unik kiranya apabila
seorang atau mungkin beberapa orang tahanan menjadi bermanfaat bahkan berperan besar bagi kemajuan negaranya.
Negara mana saja yang memiliki tahanan berpres tasi tersebut? Mari kita tengok
peta sejarah dunia. Saya akan mengajak pembaca untuk berteduh sejenak di
wilayah Brazil. Sebuah penjara di Brazil, Santa Rita do Sapucai, memiliki
inovasi memberdayakan para tahanannya untuk bisa menghasilkan listrik. Di
penjara tersebut disediakan sepeda untuk dikayuh oleh para tahanan. Dari sepeda
yang dikayuh inilah listrik dihasilkan untuk mensuplai kebutuhan listrik di
kota itu. Yang unik, setiap tahanan yang mengayuh sepedanya selama 16 jam
sehari, akan dikurangi masa tahanannya. Hakim di kota Santa Rita, Jose Henrique
Mallman, mengatakan ide yang ia gulirkan tersebut terinspirasi dari kompensasi
hukuman yang diganti dengan aktivitas lainnya. Lagi pula dengan kegiatan
tersebut tahanan menjadi sehat juga. Dari pihak penjara sendiri berencana
menambah sepeda tersebut, karena dengan jumlah yang cukup, secara teori, mampu
mensuplai listrik satu kota.
Wah inspiratif ya!. Namun, pembaca akan lebih berdecak kagum ketika kita mengintip peta sejarah
negara Belanda. Masih tentang seputar tahanan. Belanda punya cerita unik dari
kisah tawanannya yang berhasil membangun sebuah kota nan cantik dar tanah yang terkena bencana yang kini namanya telah tersohor ke
seluruh negeri.
Desa damai tanpa
polusi
Berawal dari datangnya banjir besar St Elizabeth pada tahun 1170 yang menimpa Belanda. Banyak wilayah porak
poranda, salah satunya desa di kotamadya Steenwi jkerland. Desa itu sendiri didirikan
dan dikembangkan
kembali pada 1230 ketika tahanan Mediterania datang untuk
menetap di sini. Tahanan ini seolah menemukan rumah yang diberdayakan untuk tempat tinggal mereka. Mereka
membangun dengan detail sebuah desa yang awalnya carut marut tersapu banjir dan
badai. Ditempat inilah kemudian berangsur dibangun rumah rumah unik nan
sederhana. Banyak rumah-rumah dibangun di atas pulau-pulau kecil, dicapai
melalui sebuah jembatan tinggi. Penduduk desa menggunakan perahu kecil dengan
suara motor yang pelan yang dikenal sebagai kapal berbisik, dan jembatan kayu
yang digunakan untuk menghubungkan.
Desa Giethoorn, Kotamadya Steenwijkerland, sekitar 5 km Barat Daya
Steenwijk, Provinsi Overijssel, Belanda, adalah desa unik yang seolah-olah
terapung di atas air. Menurut sejumlah sumber, pada tahun 1170 terjadi banjir besar di St. Elisabeth sehingga
menggenangi sebuah desa dan tidak dapat dikeringkan karena secara geografis
letak daratan Belanda memang lebih rendah dari permukaan laut. Akhirnya, mereka
membuat kanal sepanjang 7,5 Km dengan kedalaman 1 Meter sehingga membentuk
pulau – pulau kecil yang saling terhubung dengan jembatan. Hebatnya, semua
pekerjaan itu dilakukan oleh para tahanan. Ya kelompok tahanan yang
diberdayakan.
Desa tersebut disebut “Geytenhorn”, yang artinya tanduk kambing, karena
saat itu ditemukan banyak tanduk kambing liar ya ng tewas akibat banjir
tersebut. Sekarang desa tersebut disebut desa Giethoorn, yaitu sebuah desa yang
seolah – olah terapung. Desa ini juga bebas polusi karena tidak ada kendaraan
bermotor. Bahkan desa tersebut kerap disebut “Venesia dari Belanda” Transportasi
utama di Desa Giethoorn adalah perahu dan kini sudah ada sepeda. Perahu yang
digunkan bernama Perahu Berbisik atau Whisper Boat karena bebas dari
kebisingan.
Tak dapat dimungkiri bahwa Belanda memang contoh negara
yang selalu kuat dalam menghadapi tantangan, bahkan seberat badai sekalipun.
Negara tulip ini memiliki tanah yang memang memanggil generasinya untuk
berbenah dan menunjukkan pada dunia. Alam pertanian yang luar biasa nikmat dan
tanah subur tempat hunian penuh pesona tumbuh di negeri Belanda. Kekayaan tanah
Belanda yang sedemikian unik dan kreatif ini menjadi inspirasi negara lain
untuk tumbuh dan berkembang. “tidak ada yang tidak mungkin” tanah negeri Belanda
telah membuktikannya. Ada pelangi di desa Giethorn setelah amukan badai yang
membuat semua orang sepakat tidak ada lagi yang tersisa. Dengan bantuan
beberapa tahanan Mediteranian, Belanda bisa membuat kota cantik di tanah bekas
banjir.
Pada tahun 1958, Desa Giethoorn makin terkenal karena seorang sutradara
film, Bert Haanstra membuat film komedi, Fanfare di situ. Alhasil, wisatawan
yang berlibur ke Belanda selalu menyempatkan diri mengunjungi desa tersebut.
Memberdayakan Tahanan
Indonesia? Boleh juga
Indonesia bisa mencontoh kekayaan tanah Belanda. Jika
boleh dibandingkan, kekayaan tanah Indonesia rasanya lebih dari cukup untuk
membuat negeri Indonesia menjadi kaya dan berkualitas yang tentunya didukung
sumber daya manusia yang kreatif. Menyoal tahanan Belanda yang secara tidak
sengaja diberdayakan, Indonesia tampaknya bisa meniru kreasi ini. lumayan,
tahanan Indonesia banyak jumlahnya dan tentunya memiliki pemikiran cemerlang
untuk membuat negeri ini lebih baik tentunya.
(keterangan:
seluruh foto dalam artikel ini diambil di situs google yang diakses pada
tanggal 26 Maret 2015)
Refrensi
.jpg)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar