Setiap hari kita melakukan komunikasi, bahkan sebagian
besar kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apapun yang
disampaikan, entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau paparan teori fisika yang
rumit, yang paling terutama adalah pesan itu harus bisa dimengerti oleh orang
lain. Kalau pesan itu tidak bisa dimengerti, maka kegiatan itu tidak bisa
disebut sebagai komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan
sebagai sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami oleh orang lain.
Di dalam komunikasi lisan, ada dua cara dasar di dalam berkomunikasi, yaitu:
komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Di dalam komunikasi verbal, kita
menyampaikan pesan menggunakan kata-kata(bahasa), sedangkan di dalam komunikasi
nonverbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh
(gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat.
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicasio, dan
perkataan ini bersumber pada kata comunis. Arti communis di
sini adalah sama dalam arti kata sama makna, yaitu
sama makna mengenai suatu hal (Effendi, 1986: 8). Jadi, komunikasi berlangsung
apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu
hal yang dikomunikasikan. Bertolak dari fenomena yang digambarkan di atas, maka
masalah yang akan disajikan dalam makalah ini adalah parameter saluran
komunikasi, isi komunikasi, dan perpaduan pilihan saluran komunikasi.
Parameter Saluran Komunikasi
Dalam Interaksi Komunikasi, kita akan mengenal bahasa
sebagai instrumen utamanya. Bahasa juga dikenal dengan istilah kode
dalam linguistik. Dalam berkomunikasi melibatkan berbagai unsur pembicara dan
pendengar dalam komunikasi lisan, serta penulis dan pembaca dalam komunikasi
tertulis serta unsur-unsur lainnya. Selain itu (Roger T. Bell, 1995:108) mengatakan
perlu dipertimbangkan beberapa faktor dalam peristiwa komunikasi, diataranya
adalah kualitas suara bahasa, waktu penyampaian, isyarat, jarak, pakaian,
postur dan lain-lain.
Effendi (1986: 21) menjelaskan ada beberapa komponen
atau unsur yang terlibat dalam peristiwa komunikasi, yaitu; komunikator, pesan
komunikan, media, dan efek. Pendapat tersebut sejalan dengan
apa yang dikemukakan oleh Abdul Chaer, (1995: 23) yang mengatakan ada tiga
komponen yang terlibat dalam setiap proses komunikasi, yaitu (1) pihak yang
berkomunikasi (pengirim dan penerima informasi yang disampaikan), (2) informasi
yang disampaikan, (3) dan alat yang digunakan dalam komunikasi itu.
Dell Hymes (1972) dengan teori S-P-E-A-K-I-N-G nya
juga berpendapat bahwa ada beberapa faktor/komponen penentu
komunikasi, yaitu; (1) setting and scane (latar dan suasana); (2) participants
(peserta tutur); (3) ends (tujuan); (4) act sequence (pesan/amanat); (5) key
(cara, nada, sikap atau semangat dalam melakukan komunikasi; serius, santai); (6)
instrumentalisties (sarana/ media komunikasi); (7) norms (norma/aturan); (8)
genres (jenis wacana yang disampaikan; fiksi dan non fiksi).
Saluran komunikasi
Selain kita berbicara dengan alat-alat vokal kita,
kita juga bercakap-cakap dengan memakai saluran bagian tubuh kita. Artinya,
bahwa komunikasi tidak hanya melibatkan alat ucap, namun juga melibatkan
anggota tubuh lainnya untuk menyampaikan pesan dan maksud. Hal ini dapat
dibuktikan dalam sebuah peristiwa pembelajaran berpidato. Guru akan mengalami
kesulitan mengajarkan siswanya, bukan hanya membetulkan pilihan kata yang
tepat, namun juga, memberikan keterampilan sosial yang menunjang kecocokan
dalam pengucapan (ketepan ucapan/ artikulasi) baik dalam bentuk
vokal (kualitas suara) maupun isyarat (mimik/ekspresi).
Parameter independent- dependent
Saluran independen yang istimewa tentu saja adalah
bahasa itu sendiri, tapi harus diakui bahwa anggukan kepala, gelengkan kepala,
suara interjeksi (seruan), seperti waw, ah, wah, oo, ha, aduh yang
dapat bertindak sebagai pengganti kata-kata, semuanya merupakan saluran kedua
yang diberi nama pseudo-linguistik. Saluran dependen (terikat) melengkapi
saluran independen tetapi tidak dapat menggantikannya dalam arti yang tersebut
di atas.
Parameter statis-dinamis
Saluran statis meliputi tulisan dan fenomena
paralinguistik semacam postur, yang biasanya dianggap sebagai bagian dari
‘setting’ peristiwa ujar, sedangkan saluran dinamis terdiri dari cara
berbicara, isyarat, kualitas vokal dan yang semacam itu. Namun, pemisahannya
tidak begitu jelas bila melihat kenyataan bahwa ‘wajah kaku’ yang statis
misalnya bisa dengan mudah berubah menjadi senyuman selama terjadinya
interaksi. Biarpun demikian pembagian saluran statis dan dinamis itu sementara
sudah cukup berguna walau dibuat secara seenaknya.
Parameter audio-visual
Kalau perbedaan pokok antara dua media komunikasi
linguistik mayor-ujar dan tulisan. Keduanya dapat dilihat dengan jelas dari
segi penggunaan, pertama dengan menggunakan saluran audio dan yang kedua dengan
menggunakan saluran visual. Saluran-saluran pseudo dan paralinguistik memiliki
kedua itu didalamnya. Dalam hal ini kita juga perlu membahas komponen
komunikasi yang dapat dirasakan/diraba: seperti ciuman, jabatan-tangan, ulasan
kepala yang semuanya mengkomunikasikan dan bahkan lebih jelas daripada
kata-kata saja. Perbedaan antara anggukan pseudo linguistik visual dan seruan
yang audio adalah jelas seperti halnya pada unsur visual pada isyarat, tetapi
ada sekian banyak ciri para linguistik yang hanya terlihat melalui saluran
audio dan bukan saluran visual. Ini meliputi semua ciri prosodi dan
paralinguistik (istilah ini dipakai dalam Crystal dan Quirk, 1964, terutama
tabel 5,: 66) yang berupa tone, tempo prominence, rangkaian tinggi rendahnya
suara, kualifikasi verbal dan jedah.
Isi komunikasi
Sebagaimana yang telah dijelaskan secara garis besar
di atas bahwa saluran komunikasi yang ada pada si pemakai dalam situasi
komunikasi yaitu bentuk tatap muka, namun kita belum membahas tentang
macam-macam informasi yang disalurkan oleh sistem tersebut dan juga tentang
inter-hubungan antara pilihan saluran dengan tipe informasi. Dengan istilah
‘isi komunikasi’ maksudnya bukan makrofungsi bahasa (Halliday, 1973), lebih
jauh menjelaskan bahwa yang harus dibahas berikut ini adalah macam-macam informasi
yang dikandung di dalamnya dan yang dialihkan oleh proses komunikasi itu
sendiri, dan dalam beberapa hal diakui serta memang dimaksudkan oleh
sipembicara dan oleh orang lain dengan kontrol yang jauh dari sadar. Laver
dan Hutcheson (1972:11) menjelaskan tiga kategori kasar informasi, yaitu;
kognitif, indeks, dan pengelolaan interaksi.
Informasi kognitif berkaitan
dengan pandangan isi faktual dan proporsional dari struktur linguistik yang
ada, yaitu makna ucapan yang terjadi dari segi ciri-ciri primer yang mengandung
gagasan; aspek-aspek makna yang sudah lazim dikaji dalam semantik bahasa dan
yang mendasari definisi bahasa sehari-hari sebagai cara menyampaikan gagasan. Informasi
indeks meliputi aspek bentukan psikologi dan status sosial si pembicara
(Abercrombie, 1967:6). Lebih lanjut (Argyle, 1967:140) identitasnya,
atributnya, sikap dan emosinya, bertindak sebagai alat pemotret sikapnya
terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, serta untuk mendefinisikan peran
yang ia mainkan dalam interaksi itu. Sekarang justru jenis informasi inilah
yang diperlukan si pendengar untuk dapat menginterpretasikan secara lebih
lengkap ucapan-ucapan si pembicara dan yang membentuk data-data yang bersifat
dasar dalam psikologi sosial, sosiologi, dan pengkajian sosiolinguistik. Informasi
pengelolaan interaksi dipertukarkan sebagai cara mengawali,
melanjutkan, dan menghentikan interaksi itu sendiri karena untuk
menjadi komunikasi yang berhasil para partisipan harus menggambil posisi yang
relatif terhadap satu sama lain dalam jaraknya guna memudahkan pertukaran
informasi itu, guna menguasai prosedur yang dipakai untuk memulai,
mengubah-ubah peran, memberikan feedback, menandai tahap-tahap transaksi, dan
akhirnya membawanya pada satu kesimpulan.
Perpaduan pilihan saluran dan informasi
Semua saluran komunikasi itu terbuka bagi semua
partisipan selama terjadi satu interaksi, baik semuanya maupun beberapa saluran
itu cendrung bergerak serentak. Kemudian, adakah korelasi kuat antara pilihan
saluran dengan tipe informasi? Tampaknya memang ada, biar pun hanya beberapa
hal. Informasi kognitif pada dasarnya cendrung
disalurkan oleh alat-alat linguistik, atau dapat juga digantikan oleh pseudo
linguistik walaupun penggatian itu terjadi pada lingkup kecil, yaitu lebih
kecil dari lingkup penguatan (affirmasi) dan sanggahan (negasi) kalimat. Informasi
indeks ini dibawa oleh ketiga saluran; pilihan linguistik si pembicara
akan punya banyak implikasi tentang keadaan dirinya statusnya serta
bentuk-bentuk pilihannya. Ini juga akan membentuk ciri-ciri pseudo dan pada
linguistik. Informasi pengelolaan interaksi cendrung diberi
fasilitas yang muda bila melalui saluran para-linguistik terutama kepala dan
mata. Walaupun menggunakan saluran pseudo linguistik dan
kadang-kadang melibatkan alat-alat linguistik. Dikatakan kadang-kadang, karena
saluran linguistik sudah lazim dipakai sampai pada kapasitas maksimal dari
pengalihan informasi kognitif. Misalnya, dalam keadaan normal tanda-tanda
verbal diperlukan untuk menangani ‘pengambilan giliran bicara’ dan yang semacam
itu hanya jika ujar itu tidak dilakukan secara tatap muka.
Komponen dalam Situasi Komunikasi
Aproksimasi linguistik
Secara tradisional diakui adanya tiga faktor sebagai
komponen prima pada situasi komunikasi, yaitu pembicara, pendengar dan
topik. Berkaitan dengan hal ini, beberapa pendekatan akan dipapar
agar kita dapat memahaminya secara detail. Hal senada mengenai
komponen-komponen komunikasi juga dikemukakan oleh beberapa tokoh linguistik dengan
pendekatan-pendekatan yang berbeda, di antaranya.
Firth (1964)
Fith (1930-an) sebagai salah seorang tokoh yang
dikenal sebagai bapak pendidikan sosiolinguistik. Ia pernah mengemukakan satu
pandangan mengenai pentingnya konteks situasi pada
sebuah peristiwa komunikasi. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa komponen yang
ada didalam kontek situasi adalah sebagai berikut:
a)
Ciri-ciri artisipasi yang relevan (orang),
kepribadian yang meliputi tindak tindak verbal dan nonverbalnya.
b)
Objek-objek yang relevan
c)
Akibat dari tindak verbal.
Gregory (1967)
Gregory telah mengadopsi pandangan Firth dan
dengan berusaha menspesifikasikan hubungan antara pilihan linguistik dengan
unsur situasi. Ia mengemukakan, ada tiga kategori (komponen), yaitu; mode,
bidang dan arah discourse yang punya korelasi dengan tiga ciri situasional,
yaitu; media, peran dan hubungan pada yang diajak bicara yang secara global
dapat disamakan dengan saluran, topik, serta hubungan antara tipe-tipe partisipan.
Ia juga mengemukakan satu variabel tambahan di dalam pilihan media (ujaran dan
tulisan).
Crystal dan Davy (1969)
Krystal dan Davy mengungkapkan satu pemikiran tentang
‘situasi’ dan korelasinya dengan pilihan linguistik. Istilah ini sebagai
pengganti istilah yang agak lunak yaitu ‘variabel situasional’ dan berusaha
menspesifikasikan peran yang dimainkan oleh setiap ciri linguistik. Ini
memudahkan kontras penulisan yang ditulis untuk dibaca yang berbeda dari
penulisan yang ditulis seolah-olah tidak untuk dibaca, misalnya; berita radio,
dengan dialog sandiwara radio. Demikian pula, bentuk monolog yang tidak
mengandung perubahan aksen dan seterusnya pada diri pembicara bisa dikontraskan
dengan monolog yang mengandung perubahan aksen. Contoh yang jelas bentuk
lelucon dimana yang menceritakan lelucon itu mengambil satu aksen dari satu
karakter (pelaku) yang berbeda dengan lelucon yang memakai banyak pelaku dan
yang menceritakan lelucon itu memanfaatkan perbedaan aksen-aksen itu untuk
membedakannya.
Dengan menghubungkan ketiga aproksimasi tersebut di
atas; Firth, Gregory dan Kristal- Davy berorentasi pada korelasi antara bentuk
linguistik yang terkandung di dalam satu teks dengan variabel situasional yang
bermacam-macam, misalnya pendekatanyang bersifat linguistik dan bukan
sosiolinguistik karena bahasa tersebut di ‘tampilkan’ dan ‘diterangkan’ dari
segi konteks’ekstralinguistiknya’. Sedabgkan Crystal dan Davy (1969)
mengetengahkan tujuan secra jelas di dalam hipotesis yang berbunyi ; setiap
penggunaan bahasa mempertunjukkan ciri-ciri linguistik tertentu yang dapat
diidentifikasi dengan satu konteks ekstar-linguistik atau lebih.
Aproksimasi sosiolinguistik
Sejau ini kita senang membahas
pendekatan-pendekatan terhadap korelasi linguistik dengan variabel situasional
yang pada pokoknya berorentasi linguistik: dari bentuk ke fungsi. Berikut ini
kita akan melihat kebalikannya, yaitu pendekatan sosiolinguistik, dengan mengambil
masalah fungsi terlebih dahulu, kemudian bertanya tentang bentuk apa yang
seharusnya dipilih, dalam situasi-situasi khusus, di dalam memperoleh tujuan
sosial yang khusus pula.
Hymes (1972)
Hymes membahas lebih spesifik komponen-komponen situasional
yang terjadi selama komunikasi berlangsung antara para individu. Bentuk yang
paling jelas diartikulasikan adalah yang dicontohkan oleh Hymes dalam satu
taksonomi yang mengandung tidak kurang dari 13 unsur, dengan diakronimkan
menjadi SPEAKING, biarpun tidak semua unsur itu terjadi secara serentak.
Masing-masing unsur tersebut adalah:
1.Setting dan Scene, yang menunjuk pada keadaan fisik
yang umum di mana peristiwa komunikasi itu berlangsung, terutama waktu dan
tempat.
2.Partisipan-partisipan, yang menunjuk pada pembicara,
pengirim, pendengar, receiver telepon, penonton atau pendengar ceramah dll.
3.Ends (hasil komunikasi) yang dibagi
menjadi outcomes, yaitu hasil, baik yang diharap maupun yang tidak dimaksukan
dalam perencanaan dan goals, yairtu tujuan baik individual maupun umum.
4.Act sequence, yaitu bentuk dan isi pesan yang
disampaikan (bagaimana dan apa yang dikatakan).
5.Key (kunci), yaitu cara menyampaikan pesan (serius,
santai, menyenangkan, dll).
6.Instrumentalitas, ini meliputi saluran-saluran yang
dipakai dan bentuk ujar, bahasa, dialek, dan seterusnya (lisan, tulisan,
audiovisual).
7.Norms (norma) aturan-aturan yang berlaku didalam
suatu lingkungan yang berkenaan dengan boleh dan tidak/ patut/ tidak.
8.Genres, yaitu mengenai kategori yang benar-benar
jelas (formal, fiksi, nonfiksi dll.).
Pike (1967)
Dalam kajian linguistik kita pernah menganut paham
bahwa pilihan-pilihan linguistik yang sama cendrung terjadi kembali dalam
situasi yang sama. Akhirnya secara mutlak kita menemukan fakta bahawa semua
situasi tidak ada yang sama, dan bahkan merupakan peristiwa-peristiwa unik yang
tidak dapat terjadi lagi (non recurring). Masalah ini di ungkapkan oleh Pake
dalam usahanya membentuk teori tentang tingkah laku manusia yang menyatu secara
wajar, dengan situasi dan lingkungan. Satu jalan keluar buat pemecahan masalah
tersebut adalah mengakui bahwa semua masyarakat memperlakuakan beberapa
kelompok situasi yang begitu kecil perbedaanya sehingga untuk tujuan praktis,
kelompok-kelompok situasi tersebut dianggap sama. Hal ini berkaitan dengan
adanya variasi-variasa bahasa yang merupakan wujud dari perubahan fonetik yang
tidak mengarah pada perubahan makna atau berpotensi menjadi bentuk kata yang
berbeda struktur fonemiknya maupun makna.
Secara garis besar pendapat-pendapat mengenai
bagian-bagian komponen yang di dalam situasi komunikasi yang menyangkut dua
partisipan tentu saja modelnya Hymes dapat digunakan untuk mengkaji interaksi
komunikasi yang melibatkan lebih dari dua orang. Ada dua tipe pendekatan yang
telah dikemukakan, yaitu pendekatan linguistik, yang mencoba
mengkorelasikan bentuk dengan fungsi sosial, dan pendekatan
sosiolinguistik yang mencoba mengkaji mulai dengan fungsi,
kemudian mencoba mengkorelasikan fungsi tersebut dengan bentuk linguistiknya.
Komponen
Komunikasi
a. Lingkungan
komunikasi
Lingkungan (konteks)
komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:
Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang
nyata atau berwujud.
Sosial-psikologis, meliputi, misalnya tata hubungan status
di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan
budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini
juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas,
serius atau senda gurau,
Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau
sejarah dimana komunikasi berlangsung.
Ketiga dimensi
lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi
oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang
(dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana
persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat
menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan
malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan
banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.
b. Sumber-Penerima
Kita menggunakan
istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk
menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber
(atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan
ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima
pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.
Tetapi, ketika anda
mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri
(anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat
banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain
(secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman).
Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan
tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan
sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda
menjalankan fungsi penerima.
c. Enkoding-Dekoding
Dalam ilmu komunikasi
kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis)
sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan
gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas,
kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita
melakukan enkoding.
Kita menamai tindakan
menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding).
Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi
gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.
Oleh karenanya kita
menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder),
dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder).
Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu
kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan
fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga
menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).
d. Kompetensi
Komunikasi
Kompetensi komunikasi
mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan
Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang
peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content)
dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin
layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi
mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan
tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang
keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.
Dengan meningkatkan
kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak
anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin
banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses
ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata
anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin
banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.
e. Pesan
Pesan komunikasi
dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui
salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya
kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau
tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi
secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang
kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan
kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita
ungkapkan dalam melakukan komunikasi.
f. Saluran
Saluran komunikasi
adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui
hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda
secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan
(saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima
isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan
mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh,
ini pun komunikasi (saluran taktil).
g. Umpan
Balik
Umpan balik adalah
informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari
anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda
panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah
adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara
berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya,
anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda
katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.
Selain umpan balik
sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat
datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau
gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk
umpan balik.
h. Gangguan
Gangguan (noise)
adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi
penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan
dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang
disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.
Gangguan dalam
komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung gangguan, dan
walaupun kita tidak dapat meniadakannya samasekali, kita dapat mengurangi
gangguan dan dampaknya. Menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari
keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan
keterampilan mendengarkan dan menerima serta mengirimkan umpan balik adalah
beberapa cara untuk menanggulangi gangguan.
Simpulan
Pemaparan mengenai saluran komunikasi dan
isinya di atas dapat disimpulkan, bahwa peristiwa komunikasi dapat terjadi jika
berlangsung interaksi antara penutur yang satu dengan yang lain dan situasi
tersebut berlangsung secara sadar dalam memahami topik
atau pesan. Komunikasi dapat disalurkan dengan cara yang berbeda-beda, dalam
ahal ini saluran-aluran komunikasi yang dimaksud adalah parameter
statis-dinamis, dependen-independen, dan audi-visual. Sementara isi
komunikasi dikategorikan menjadi tiga, yaitu informasi kognitif,
indeks, dan pengelolaan interaksi. Dalam peristiwa komunikasi, tentunya
terdapat komponen-komponen penunjang yang menjadi penentu terciptanya situasi
komunikasi yang bersifat komunikatif (baik). Komponen- komponen komunikasi
tersebut dikelompok kedalam dua pendekatan, yaitu pendekatan yang dikenal
dengan aproksimasi linguisik, dan aproksimasi sosiolinguistik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar