Senin, 21 Oktober 2013

SALURAN KOMUNIKASI DAN ISINYA

Setiap hari kita melakukan komunikasi, bahkan sebagian besar kegiatan dalam kehidupan kita adalah untuk berkomunikasi. Apapun yang disampaikan, entah itu cerita lucu, kisah sedih, atau paparan teori fisika yang rumit, yang paling terutama adalah pesan itu harus bisa dimengerti oleh orang lain. Kalau pesan itu tidak bisa dimengerti, maka kegiatan itu tidak bisa disebut sebagai komunikasi. Secara sederhana, komunikasi dapat didefinisikan sebagai sebuah tindakan mengirimkan pesan yang dapat dipahami oleh orang lain. Di dalam komunikasi lisan, ada dua cara dasar di dalam berkomunikasi, yaitu: komunikasi verbal dan komunikasi nonverbal. Di dalam komunikasi verbal, kita menyampaikan pesan menggunakan kata-kata(bahasa), sedangkan di dalam komunikasi nonverbal, kita mengirimkan pesan menggunakan tanda-tanda, simbol, sikap tubuh (gesture), ekspresi wajah, nada bicara dan tekanan kalimat.
Istilah komunikasi berasal dari bahasa latin communicasio, dan perkataan ini bersumber pada kata comunis. Arti communis di sini adalah sama dalam arti kata sama makna, yaitu sama makna mengenai suatu hal (Effendi, 1986: 8). Jadi, komunikasi berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat terdapat kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan. Bertolak dari fenomena yang digambarkan di atas, maka masalah yang akan disajikan dalam makalah ini adalah parameter saluran komunikasi, isi komunikasi, dan perpaduan pilihan saluran komunikasi.
Parameter Saluran Komunikasi
Menurut, Abdul Chaer (1995: 24) tidak semua informasi adalah komunikasi, namun yang dimaksud dengan komunikasi adalah segala bentuk perilaku yang dapat memberikan informasi yang benar, dan dilakukan secara sadar, serta ada pihak yang bertindak sebagai penerima pesan. Pendapat lain disampaikan oleh Efendi (1986: 3) menurutnya pengertian komunikasi dapat dilihat dari dua segi, yaitu secara umum dan pragmatis.  Secara umum komunikasi dapat dijelaskan secara etimologis, yaitu berasal dari bahasa Latin Comunicatio, dan kata ini bersumber dari kata communis (sama-makna). Jadi komunikasi akan berlangsung apabila antara orang-orang yang terlibat memiliki kesamaan makna mengenai suatu hal yang dikomunikasikan.
Dalam Interaksi Komunikasi, kita akan mengenal bahasa sebagai instrumen utamanya. Bahasa  juga dikenal dengan istilah kode dalam linguistik. Dalam berkomunikasi melibatkan berbagai unsur pembicara dan pendengar dalam komunikasi lisan, serta penulis dan pembaca dalam komunikasi tertulis serta unsur-unsur lainnya. Selain itu (Roger T. Bell, 1995:108) mengatakan perlu dipertimbangkan beberapa faktor dalam peristiwa komunikasi, diataranya adalah kualitas suara bahasa, waktu penyampaian, isyarat, jarak, pakaian, postur dan lain-lain.
Effendi (1986: 21) menjelaskan ada beberapa komponen atau unsur yang terlibat dalam peristiwa komunikasi, yaitu; komunikator, pesan komunikan, media, dan efek.   Pendapat tersebut sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Abdul Chaer, (1995: 23) yang mengatakan ada tiga komponen yang terlibat dalam setiap proses komunikasi, yaitu (1) pihak yang berkomunikasi (pengirim dan penerima informasi yang disampaikan), (2) informasi yang disampaikan, (3) dan alat yang digunakan dalam komunikasi itu.
Dell Hymes (1972) dengan teori S-P-E-A-K-I-N-G nya juga berpendapat bahwa ada beberapa faktor/komponen  penentu komunikasi, yaitu; (1) setting and scane (latar dan suasana); (2) participants (peserta tutur); (3) ends (tujuan); (4) act sequence (pesan/amanat); (5) key (cara, nada, sikap atau semangat dalam melakukan komunikasi; serius, santai); (6) instrumentalisties (sarana/ media komunikasi); (7) norms (norma/aturan); (8) genres (jenis wacana yang disampaikan; fiksi dan non fiksi).
Saluran komunikasi
Selain kita berbicara dengan alat-alat vokal kita, kita juga bercakap-cakap dengan memakai saluran bagian tubuh kita. Artinya, bahwa komunikasi tidak hanya melibatkan alat ucap, namun juga melibatkan anggota tubuh lainnya untuk menyampaikan pesan dan maksud. Hal ini dapat dibuktikan dalam sebuah peristiwa pembelajaran berpidato. Guru akan mengalami kesulitan mengajarkan siswanya, bukan hanya membetulkan pilihan kata yang tepat, namun juga, memberikan keterampilan sosial yang menunjang kecocokan dalam pengucapan (ketepan ucapan/ artikulasi)  baik dalam bentuk vokal (kualitas suara) maupun isyarat (mimik/ekspresi).   
Parameter independent- dependent
Saluran independen yang istimewa tentu saja adalah bahasa itu sendiri, tapi harus diakui bahwa anggukan kepala, gelengkan kepala, suara interjeksi (seruan), seperti waw, ah, wah, oo, ha, aduh  yang dapat bertindak sebagai pengganti kata-kata, semuanya merupakan saluran kedua yang diberi nama pseudo-linguistik. Saluran dependen (terikat) melengkapi saluran independen tetapi tidak dapat menggantikannya dalam arti yang tersebut di atas.
Parameter statis-dinamis
Saluran statis meliputi tulisan dan fenomena paralinguistik semacam postur, yang biasanya dianggap sebagai bagian dari ‘setting’ peristiwa ujar, sedangkan saluran dinamis terdiri dari cara berbicara, isyarat, kualitas vokal dan yang semacam itu. Namun, pemisahannya tidak begitu jelas bila melihat kenyataan bahwa ‘wajah kaku’ yang statis misalnya bisa dengan mudah berubah menjadi senyuman selama terjadinya interaksi. Biarpun demikian pembagian saluran statis dan dinamis itu sementara sudah cukup berguna walau dibuat secara seenaknya.
Parameter audio-visual
Kalau perbedaan pokok antara dua media komunikasi linguistik mayor-ujar dan tulisan. Keduanya dapat dilihat dengan jelas dari segi penggunaan, pertama dengan menggunakan saluran audio dan yang kedua dengan menggunakan saluran visual. Saluran-saluran pseudo dan paralinguistik memiliki kedua itu didalamnya. Dalam hal ini kita juga perlu membahas komponen komunikasi yang dapat dirasakan/diraba: seperti ciuman, jabatan-tangan, ulasan kepala yang semuanya mengkomunikasikan dan bahkan lebih jelas daripada kata-kata saja. Perbedaan antara anggukan pseudo linguistik visual dan seruan yang audio adalah jelas seperti halnya pada unsur visual pada isyarat, tetapi ada sekian banyak ciri para linguistik yang hanya terlihat melalui saluran audio dan bukan saluran visual. Ini meliputi semua ciri prosodi dan paralinguistik (istilah ini dipakai dalam Crystal dan Quirk, 1964, terutama tabel 5,: 66) yang berupa tone, tempo prominence, rangkaian tinggi rendahnya suara, kualifikasi verbal dan jedah.
Isi komunikasi
Sebagaimana yang telah dijelaskan secara garis besar di atas bahwa saluran komunikasi yang ada pada si pemakai dalam situasi komunikasi yaitu bentuk tatap muka, namun kita belum membahas tentang macam-macam informasi yang disalurkan oleh sistem tersebut dan juga tentang inter-hubungan antara pilihan saluran dengan tipe informasi. Dengan istilah ‘isi komunikasi’ maksudnya bukan makrofungsi bahasa (Halliday, 1973), lebih jauh menjelaskan bahwa yang harus dibahas berikut ini adalah macam-macam informasi yang dikandung di dalamnya dan yang dialihkan oleh proses komunikasi itu sendiri, dan dalam beberapa hal diakui serta memang dimaksudkan oleh sipembicara dan oleh orang lain dengan kontrol yang jauh dari sadar.  Laver dan Hutcheson (1972:11) menjelaskan tiga kategori kasar informasi, yaitu; kognitif, indeks, dan pengelolaan interaksi.
Informasi kognitif  berkaitan dengan pandangan isi faktual dan proporsional dari struktur linguistik yang ada, yaitu makna ucapan yang terjadi dari segi ciri-ciri primer yang mengandung gagasan; aspek-aspek makna yang sudah lazim dikaji dalam semantik bahasa dan yang mendasari definisi bahasa sehari-hari sebagai cara menyampaikan gagasan.  Informasi indeks meliputi aspek bentukan psikologi dan status sosial si pembicara (Abercrombie, 1967:6). Lebih lanjut (Argyle, 1967:140) identitasnya, atributnya, sikap dan emosinya, bertindak sebagai alat pemotret sikapnya terhadap dirinya sendiri, terhadap orang lain, serta untuk mendefinisikan peran yang ia mainkan dalam interaksi itu. Sekarang justru jenis informasi inilah yang diperlukan si pendengar untuk dapat menginterpretasikan secara lebih lengkap ucapan-ucapan si pembicara dan yang membentuk data-data yang bersifat dasar dalam psikologi sosial, sosiologi, dan pengkajian sosiolinguistik. Informasi pengelolaan interaksi dipertukarkan sebagai cara mengawali, melanjutkan, dan menghentikan  interaksi itu sendiri karena untuk menjadi komunikasi yang berhasil para partisipan harus menggambil posisi yang relatif terhadap satu sama lain dalam jaraknya guna memudahkan pertukaran informasi itu, guna menguasai prosedur yang dipakai untuk memulai, mengubah-ubah peran, memberikan feedback, menandai tahap-tahap transaksi, dan akhirnya membawanya pada satu kesimpulan.
Perpaduan pilihan saluran dan informasi
Semua saluran komunikasi itu terbuka bagi semua partisipan selama terjadi satu interaksi, baik semuanya maupun beberapa saluran itu cendrung bergerak serentak. Kemudian, adakah korelasi kuat antara pilihan saluran dengan tipe informasi? Tampaknya memang ada, biar pun hanya beberapa hal. Informasi kognitif  pada dasarnya cendrung disalurkan oleh alat-alat linguistik, atau dapat juga digantikan oleh pseudo linguistik walaupun penggatian itu terjadi pada lingkup kecil, yaitu lebih kecil dari lingkup penguatan (affirmasi) dan sanggahan (negasi) kalimat. Informasi indeks ini dibawa oleh ketiga saluran; pilihan linguistik si pembicara akan punya banyak implikasi tentang keadaan dirinya statusnya serta bentuk-bentuk pilihannya. Ini juga akan membentuk ciri-ciri pseudo dan pada linguistik. Informasi pengelolaan interaksi cendrung diberi fasilitas yang muda bila melalui saluran para-linguistik terutama kepala dan mata. Walaupun menggunakan saluran pseudo linguistik dan kadang-kadang melibatkan alat-alat linguistik. Dikatakan kadang-kadang, karena saluran linguistik sudah lazim dipakai sampai pada kapasitas maksimal dari pengalihan informasi kognitif. Misalnya, dalam keadaan normal tanda-tanda verbal diperlukan untuk menangani ‘pengambilan giliran bicara’ dan yang semacam itu hanya jika ujar itu tidak dilakukan secara tatap muka.
Komponen dalam Situasi Komunikasi
Aproksimasi linguistik
Secara tradisional diakui adanya tiga faktor sebagai komponen prima pada situasi komunikasi, yaitu pembicara, pendengar dan topik.  Berkaitan dengan hal ini, beberapa pendekatan akan dipapar agar kita dapat memahaminya secara detail.  Hal senada mengenai komponen-komponen komunikasi juga dikemukakan oleh beberapa tokoh linguistik dengan pendekatan-pendekatan yang berbeda, di antaranya.
Firth  (1964)
Fith (1930-an) sebagai salah seorang tokoh yang dikenal sebagai bapak pendidikan sosiolinguistik. Ia pernah mengemukakan satu pandangan mengenai pentingnya konteks situasi  pada sebuah peristiwa komunikasi. Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa komponen yang ada didalam kontek situasi adalah sebagai berikut:
a)    Ciri-ciri artisipasi yang relevan (orang), kepribadian yang meliputi tindak tindak verbal dan nonverbalnya.
b)    Objek-objek yang relevan
c)    Akibat dari tindak verbal.
Gregory (1967)
Gregory telah mengadopsi pandangan Firth  dan dengan berusaha menspesifikasikan hubungan antara pilihan linguistik dengan unsur situasi. Ia mengemukakan, ada tiga kategori (komponen), yaitu; mode, bidang dan arah discourse yang punya korelasi dengan tiga ciri situasional, yaitu; media, peran dan hubungan pada yang diajak bicara yang secara global dapat disamakan dengan saluran, topik, serta hubungan antara tipe-tipe partisipan. Ia juga mengemukakan satu variabel tambahan di dalam pilihan media (ujaran dan tulisan).
Crystal dan Davy (1969)
Krystal dan Davy mengungkapkan satu pemikiran tentang ‘situasi’ dan korelasinya dengan pilihan linguistik. Istilah ini sebagai pengganti istilah yang agak lunak yaitu ‘variabel situasional’ dan berusaha menspesifikasikan peran yang dimainkan oleh setiap ciri linguistik. Ini memudahkan kontras penulisan yang ditulis untuk dibaca yang berbeda dari penulisan yang ditulis seolah-olah tidak untuk dibaca, misalnya; berita radio, dengan dialog sandiwara radio. Demikian pula, bentuk monolog yang tidak mengandung perubahan aksen dan seterusnya pada diri pembicara bisa dikontraskan dengan monolog yang mengandung perubahan aksen. Contoh yang jelas bentuk lelucon dimana yang menceritakan lelucon itu mengambil satu aksen dari satu karakter (pelaku) yang berbeda dengan lelucon yang memakai banyak pelaku dan yang menceritakan lelucon itu memanfaatkan perbedaan aksen-aksen itu untuk membedakannya.
Dengan menghubungkan ketiga aproksimasi tersebut  di atas; Firth, Gregory dan Kristal- Davy berorentasi pada korelasi antara bentuk linguistik yang terkandung di dalam satu teks dengan variabel situasional yang bermacam-macam, misalnya pendekatanyang bersifat linguistik dan bukan sosiolinguistik karena bahasa tersebut di ‘tampilkan’ dan ‘diterangkan’ dari segi konteks’ekstralinguistiknya’. Sedabgkan Crystal dan Davy (1969) mengetengahkan tujuan secra jelas di dalam hipotesis yang berbunyi ; setiap penggunaan bahasa mempertunjukkan ciri-ciri linguistik tertentu yang dapat diidentifikasi dengan satu konteks ekstar-linguistik atau lebih.
Aproksimasi sosiolinguistik
Sejau  ini kita senang membahas pendekatan-pendekatan terhadap korelasi linguistik dengan variabel situasional yang pada pokoknya berorentasi linguistik: dari bentuk ke fungsi. Berikut ini kita akan melihat kebalikannya, yaitu pendekatan sosiolinguistik, dengan mengambil masalah fungsi terlebih dahulu, kemudian bertanya tentang bentuk apa yang seharusnya dipilih, dalam situasi-situasi khusus, di dalam memperoleh tujuan sosial yang khusus pula.
Hymes (1972)
Hymes membahas lebih spesifik komponen-komponen situasional yang terjadi selama komunikasi berlangsung antara para individu. Bentuk yang paling jelas diartikulasikan adalah yang dicontohkan oleh Hymes dalam satu taksonomi yang mengandung tidak kurang dari 13 unsur, dengan diakronimkan menjadi SPEAKING, biarpun tidak semua unsur itu terjadi secara serentak. Masing-masing unsur tersebut adalah:
1.Setting dan Scene, yang menunjuk pada keadaan fisik yang umum di mana peristiwa komunikasi itu berlangsung, terutama waktu dan tempat.
2.Partisipan-partisipan, yang menunjuk pada pembicara, pengirim, pendengar, receiver telepon, penonton atau pendengar ceramah dll.
3.Ends (hasil komunikasi)  yang dibagi menjadi outcomes, yaitu hasil, baik yang diharap maupun yang tidak dimaksukan dalam perencanaan dan goals, yairtu tujuan baik individual maupun umum.
4.Act sequence, yaitu bentuk dan isi pesan yang disampaikan (bagaimana dan apa yang dikatakan).
5.Key (kunci), yaitu cara menyampaikan pesan (serius, santai, menyenangkan, dll).
6.Instrumentalitas, ini meliputi saluran-saluran yang dipakai dan bentuk ujar, bahasa, dialek, dan seterusnya (lisan, tulisan, audiovisual).
7.Norms (norma) aturan-aturan yang berlaku didalam suatu lingkungan yang berkenaan dengan boleh dan tidak/ patut/ tidak.
8.Genres, yaitu mengenai kategori yang benar-benar jelas (formal, fiksi, nonfiksi dll.).
Pike (1967)
Dalam kajian linguistik kita pernah menganut paham bahwa pilihan-pilihan linguistik yang sama cendrung terjadi kembali dalam situasi yang sama. Akhirnya secara mutlak kita menemukan fakta bahawa semua situasi tidak ada yang sama, dan bahkan merupakan peristiwa-peristiwa unik yang tidak dapat terjadi lagi (non recurring). Masalah ini di ungkapkan oleh Pake dalam usahanya membentuk teori tentang tingkah laku manusia yang menyatu secara wajar, dengan situasi dan lingkungan. Satu jalan keluar buat pemecahan masalah tersebut adalah mengakui bahwa semua masyarakat memperlakuakan beberapa kelompok situasi yang begitu kecil perbedaanya sehingga untuk tujuan praktis, kelompok-kelompok situasi tersebut dianggap sama. Hal ini berkaitan dengan adanya variasi-variasa bahasa yang merupakan wujud dari perubahan fonetik  yang tidak mengarah pada perubahan makna atau berpotensi menjadi bentuk kata yang berbeda struktur fonemiknya maupun makna.


Secara garis besar pendapat-pendapat  mengenai bagian-bagian komponen yang di dalam situasi komunikasi yang menyangkut dua partisipan tentu saja modelnya Hymes dapat digunakan untuk mengkaji interaksi komunikasi yang melibatkan lebih dari dua orang. Ada dua tipe pendekatan yang telah dikemukakan, yaitu pendekatan linguistik, yang mencoba mengkorelasikan bentuk dengan fungsi sosial, dan pendekatan sosiolinguistik yang mencoba mengkaji mulai dengan fungsi, kemudian mencoba mengkorelasikan fungsi tersebut dengan bentuk linguistiknya.
      Komponen Komunikasi
a.   Lingkungan komunikasi
Lingkungan (konteks) komunikasi setidak-tidaknya memiliki tiga dimensi:
Fisik, adalah ruang dimana komunikasi berlangsung yang nyata atau berwujud.
Sosial-psikologis, meliputi, misalnya tata hubungan status di antara mereka yang terlibat, peran yang dijalankan orang, serta aturan budaya masyarakat di mana mereka berkomunikasi. Lingkungan atau konteks ini juga mencakup rasa persahabatan atau permusuhan, formalitas atau informalitas, serius atau senda gurau,
Temporal (waktu), mencakup waktu dalam hitungan jam, hari, atau sejarah dimana komunikasi berlangsung.

Ketiga dimensi lingkungan ini saling berinteraksi; masing-masing mempengaruhi dan dipengaruhi oleh yang lain. Sebagai contoh, terlambat memenuhi janji dengan seseorang (dimensi temporal), dapat mengakibatkan berubahnya suasana persahabatan-permusuhan (dimensi sosial-psikologis), yang kemudian dapat menyebabkan perubahan kedekatan fisik dan pemilihan rumah makan untuk makan malam (dimensi fisik). Perubahan-perubahan tersebut dapat menimbulkan banyak perubahan lain. Proses komunikasi tidak pernah statis.
b.   Sumber-Penerima
Kita menggunakan istilah sumber-penerima sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa setiap orang yang terlibat dalam komunikasi adalah sumber (atau pembicara) sekaligus penerima (atau pendengar). Anda mengirimkan pesan ketika anda berbicara, menulis, atau memberikan isyarat tubuh. Anda menerima pesan dengan mendengarkan, membaca, membaui, dan sebagainya.
Tetapi, ketika anda mengirimkan pesan, anda juga menerima pesan. Anda menerima pesan anda sendiri (anda mendengar diri sendiri, merasakan gerakan anda sendiri, dan melihat banyak isyarat tubuh anda sendiri) dan anda menerima pesan dari orang lain (secara visual, melalui pendengaran, atau bahkan melalui rabaan dan penciuman). Ketika anda berbicara dengan orang lain, anda memandangnya untuk mendapatkan tanggapan (untuk mendapatkan dukungan, pengertian, simpati, persetujuan, dan sebagainya). Ketika anda menyerap isyarat-isyarat non-verbal ini, anda menjalankan fungsi penerima.
c.   Enkoding-Dekoding
Dalam ilmu komunikasi kita menamai tindakan menghasilkan pesan (misalnya, berbicara atau menulis) sebagai enkoding (encoding). Dengan menuangkan gagasan-gagasan kita ke dalam gelombang suara atau ke atas selembar kertas, kita menjelmakan gagasan-gagasan tadi ke dalam kode tertentu. Jadi, kita melakukan enkoding.
Kita menamai tindakan menerima pesan (misalnya, mendengarkan atau membaca) sebagai dekoding (decoding). Dengan menerjemahkan gelombang suara atau kata-kata di atas kertas menjadi gagasan, anda menguraikan kode tadi. Jadi, anda melakukan dekoding.
Oleh karenanya kita menamai pembicara atau penulis sebagai enkoder (encoder), dan pendengar atau pembaca sebagai dekoder (decoder). Seperti halnya sumber-penerima, kita menuliskan enkoding-dekoding sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan untuk menegaskan bahwa anda menjalankan fungsi-fungsi ini secara simultan. Ketika anda berbicara (enkoding), anda juga menyerap tanggapan dari pendengar (dekoding).
d.   Kompetensi Komunikasi
Kompetensi komunikasi mengacu pada kemampuan anda untuk berkomunikasi secara efektif (Spitzberg dan Cupach, 1989). Kompetensi ini mencakup hal-hal seperti pengetahuan tentang peran lingkungan (konteks) dalam mempengaruhi kandungan (content) dan bentuk pesan komunikasi (misalnya, pengetahuan bahwa suatu topik mungkin layak dikomunikasikan kepada pendengar tertentu di lingkungan tertentu, tetapi mungkin tidak layak bagi pendengar dan lingkungan yang lain). Pengetabuan tentang tatacara perilaku nonverbal (misalnya kepatutan sentuhan, suara yang keras, serta kedekatan fisik) juga merupakan bagian dari kompetensi komunikasi.
Dengan meningkatkan kompetensi anda, anda akan mempunyai banyak pilihan berperilaku. Makin banyak anda tahu tentang komunikasi (artinya, makin tinggi kompetensi anda), makin banyak pilihan, yang anda punyai untuk melakukan komunikasi sehari-hari. Proses ini serupa dengan proses mempelajari perbendaharaan kata: Makin banyak kata anda ketahui (artinya, makin tinggi kompetensi perbendaharaan kata anda), makin banyak cara yang anda miliki untuk mengungkapkan diri.
e.   Pesan
Pesan komunikasi dapat mempunyai banyak bentuk. Kita mengirimkan dan menerima pesan ini melalui salah satu atau kombinasi tertentu dari panca indra kita. Walaupun biasanya kita menganggap pesan selalu dalam bentuk verbal (lisan atau tertulis), ini bukanlah satu-satunya jenis pesan. Kita juga berkomunikasi secara nonverbal (tanpa kata). Sebagai contoh, busana yang kita kenakan, seperti juga cara kita berjalan, berjabatan tangan, menggelengkan kepala, menyisir rambut, duduk, dan. tersenyum. Pendeknya, segala hal yang kita ungkapkan dalam melakukan komunikasi.
f.    Saluran
Saluran komunikasi adalah media yang dilalui pesan. Jarang sekali komunikasi berlangsung melalui hanya satu saluran, kita menggunakan dua, tiga, atau empat saluran yang berbeda secara simultan. Sebagai contoh, dalam interaksi tatap muka kita berbicara dan mendengarkan (saluran suara), tetapi kita juga memberikan isyarat tubuh dan menerima isyarat ini secara visual (saluran visual). Kita juga memancarkan dan mencium bau-bauan (saluran olfaktori). Seringkali kita saling menyentuh, ini pun komunikasi (saluran taktil).
g.   Umpan Balik
Umpan balik adalah informasi yang dikirimkan balik ke sumbernya. Umpan balik dapat berasal dari anda sendiri atau dari orang lain. Dalam diagram universal komunikasi tanda panah dari satu sumber-penerima ke sumber-penerima yang lain dalam kedua arah adalah umpan balik. Bila anda menyampaikan pesan misalnya, dengan cara berbicara kepada orang lain anda juga mendengar diri anda sendiri. Artinya, anda menerima umpan balik dari pesan anda sendiri. Anda mendengar apa yang anda katakan, anda merasakan gerakan anda, anda melihat apa yang anda tulis.
Selain umpan balik sendiri ini, anda menerima umpan balik dari orang lain. Umpan balik ini dapat datang dalam berbagai bentuk: Kerutan dahi atau senyuman, anggukan atau gelengan kepala, tepukan di bahu atau tamparan di pipi, semuanya adalah bentuk umpan balik.
h.   Gangguan
Gangguan (noise) adalah gangguan dalam komunikasi yang mendistorsi pesan. Gangguan menghalangi penerima dalam menerima pesan dan sumber dalam mengirimkan pesan. Gangguan dikatakan ada dalam suatu sistem komunikasi bila ini membuat pesan yang disampaikan berbeda dengan pesan yang diterima.
Gangguan dalam komunikasi tidak terhindarkan. Semua komunikasi mengandung gangguan, dan walaupun kita tidak dapat meniadakannya samasekali, kita dapat mengurangi gangguan dan dampaknya. Menggunakan bahasa yang lebih akurat, mempelajari keterampilan mengirim dan menerima pesan nonverbal, serta meningkatkan keterampilan mendengarkan dan menerima serta mengirimkan umpan balik adalah beberapa cara untuk menanggulangi gangguan.
Simpulan
Pemaparan mengenai  saluran komunikasi dan isinya di atas dapat disimpulkan, bahwa peristiwa komunikasi dapat terjadi jika berlangsung interaksi antara penutur yang satu dengan yang lain dan situasi tersebut  berlangsung secara sadar dalam  memahami topik atau pesan. Komunikasi dapat disalurkan dengan cara yang berbeda-beda, dalam ahal ini saluran-aluran komunikasi yang dimaksud adalah parameter statis-dinamis,  dependen-independen, dan audi-visual. Sementara isi komunikasi  dikategorikan menjadi tiga, yaitu informasi kognitif, indeks, dan pengelolaan interaksi. Dalam peristiwa komunikasi, tentunya terdapat komponen-komponen penunjang yang menjadi penentu terciptanya situasi komunikasi yang bersifat komunikatif (baik). Komponen- komponen komunikasi tersebut dikelompok kedalam dua pendekatan, yaitu pendekatan yang dikenal dengan aproksimasi linguisik, dan aproksimasi sosiolinguistik.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar