Selasa, 22 Oktober 2013

Sastra Lumpuhkan Korupsi

Sastra Lumpuhkan Korupsi
Apa masih ada yang takut korupsi? Mungkin setiap orang yang pernah tinggal di Indonesia mengatakan tidak. Terpidana kasus korupsi justru semakin kaya, terkenal layaknya artis, dan binal. Inilah Indonesia dengan kecelakaan sejarahnya. Anak-anak akan lebih mengenal “artis-artis korupsi” daripada R.A Kartini, Chairil Anwar, Suekarno, atau pahlawan lainnya yang tidak sepopuler “artis” tersebut. Menghela nafas sejenak. Jeruji besi tampaknya tidak merontokkan keinginan binal para “artis” itu untuk menjilati uang rakyat sampai habis. Seharusnya yang dijajah dan diperbaiki adalah psikologi dan mental para pelaku korupsi atau yang saya sebut “artis” tersebut. Koordinator Divisi Hukum Indonesia Corruption Watch (ICW), Febridiansyah pernah lantang mengatakan, ‘’Tidak cukup hanya hakim, jaksa, KPK, dan penegak hukum lainnya yang memiliki komitmen untuk memberantas korupsi, bila tidak ada peran dari masyarakat.”
Banyak yang setuju dengan kalimat ini. Ya…saatnya masyarakat geram dan mengambil langkah kreatif memberantas korupsi, salah satunya lewat dunia sastra. Sastra bisa menjadi senjata ampuh dalam memberantas korupsi. Korupsi menjadi polemik dan bencana. Menghadapi polemik ini, sastra bertugas memberi wawasan segar dan pencerahan kreatif kepada publik, agar menghindar dari jerat korupsi. Karya sastra, baik novel, cerpen, puisi, film sekalipun bertugas untuk mencerdaskan bangsa ini, hendaknya menempatkan antikorupsi sebagai wacana yang terus dikampanyekan. Tanggung jawab sosial sastrawan adalah mengupayakan perbaikan hidup dengan menjelaskan kondisi kritis yang merenggut masa depan bangsa ini. Maka, karya sastra yang menggambarkan perlawanan terhadap tradisi korupsi patut didukung dengan pemikiran dan gerakan kongkret. Kampanye antikorupsi yang meletup akan menjadi perjuangan kreatif penuh risiko, namun menjadi panggilan hidup dan refleksi penting.
Ketika seseorang atau siapapun itu, merasa jengah akan perilaku koruptor dan penegakan hukum yang bias, bisa melontarkan protes secara langsung. Permasalahannya adalah tidak setiap orang memiliki keberanian itu. Mereka yang peka untuk memperjuangkan keadilan ini, diam-diam memiliki senjata ampuh. Dengan tulisan-tulisan atau karya sastra maut lainnya, mereka bisa menuangkan protes yang bisa dinikmati sepanjang masa oleh bangsa ini. Ya…semua proses pilu itu akan abadi dan dikenang. Perjuangan kreatif inilah yang akan menjadikan nama penyair terekam dalam keabadian. Sebaliknya, ketika penyair hanya terdiam menghadapi badai krisis sosial, maka karya yang lahir hanya akan singgah sejenak, selanjutnya tenggelam.
Riuhnya kritik sosial dalam panggung sastra, semoga menjadi inspirasi bagi berbagai elemen bangsa untuk memperbaiki negeri ini. Kritik sosial yang membuncah dari lubuk sastra, akan menjadi ekpresi kehidupan yang sesungguhnya. Melalui medium bahasa, karya sastra menampilkan ekspresi kolektivitas tertentu, sebagai pandangan dunia. Hal ini menjadi spirit penyajian refleksi melalui lorong sastra. Membangkitkan semangat kejujuran untuk menolak arus korupsi yang mahadahsyat.
Bagaimana sebenarnya peran sastra dalam meminimalisir korupsi? Di beberapa dekade sejarah, karya sastra ‘seburuk’ apapun bisa mendidik pembacanya bersikap kritis dalam memilih dan memihak nilai-nilai moral yang disajikannya. Sastra Indonesia khusunya, telah menyumbangkan perlawanan terhadap korupsi dari masa kolonial Belanda. Nafas kehidupan novel-novel ini bisa menginspirasi bangsa ini untuk menegakkan kembali kejujuran dan kebersihan di ranah pemerintahan NKRI. Multatuli dalam karya fenomenalnya, Max Havelaar of de Aoffieveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappiij (Lelang Kopi Perusahaan Dagang Belanda) yang memuat kisah tentang para penguasa pribumi maupun kolonial yang korup. Melalui itu Multatuli alias Douwes Dekker akhirnya berhasil membukakan mata politisi dan masyarakat Belanda saat itu tentang kebobrokan di negeri jajahannya, Nusantara. Pada abad ke-20, novel Hikayat Kadiroen telah ditulis oleh Semaoen. Novel bergaya realisme-sosial ini terdapat ide-ide tentang perlawanan terhadap kaum Borjuis dan upaya menuju kesetaraan kelas.
Di zaman Orde Baru muncul Ahmad Tohari dengan novel Orang-Orang Proyek. Tentang kisah seorang insinyur bernama Kabul yang tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan sebuah proyek dengan keberpihakan pada masyarakat miskin. Nafas korupsi masih menjadi pembicaraan lantang para penyair sampai detik ini. Bahkan, insan kreatif di negeri ini tidak hanya berbicara lewat tulisan, beberapa tontonan yang sarat akan pesan antikorupsi juga didendangkan untuk khayalak. Sebuah film “Kita VS Korupsi”, garapan sutradara Emil Heradi dan kawan-kawan ini diapresiasikan untuk gerakan nyata memberantas korupsi. Film besutan KPK tidak diputar secara komersial, namun akan dijadikan film kampanye antikorupsi dalam roadshow KPK ke sejumlah provinsi. Film ini dibintangi sejumlah artis terkenal antara lain Nicholas Saputra, Revalina S. Temat, Tora Sudiro, dan Ringgo Agus Rahman. Menurut Ketua YPAM, H. Nanang I. Ma'soem yang turut mendukung gagasan film tersebut, dirinya melihat beberapa adegan dalam film itu sangat mengena pada kehidupan nyata saat ini. Film ini berisi pesan moral yang akan memengaruhi umat untuk melepaskan diri dari perilaku korupsi.
Hal nyata yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah menyentuh dunia pendidikan secara langsung, mengenalkan kembali anak-anak pada sastra adalah dengan membangkitkan apresiasi sastra Indonesia. Maraknya kasus korupsi (juga dekadensi moral lainnya) di Indonesia, agaknya bisa dikaitkan dengan rendahnya apresiasi sastra (juga karya seni lainnya) di negeri ini. Misalnya saja, betapa siswa sekolah menengah di Malaysia, Filipina dan Thailand telah akrab dengan novel-novel karya Pramoedya Ananta Toer dan karya sastrawan-sastrawan besar dunia lainnya, sedangkan rekan-rekannya di Indonesia hanya sedikit yang mengenal sosok Pramoedya Ananta Toer. Jika sejak kecil anak-anak kurang mendapatkan pendidikan tentang apresiasi sastra, sangat sulit mengharapkan mereka tumbuh dan berkembang menjadi manusia-manusia yang memiliki kekayaan spiritualitas yang dapat membuatnya hidup terhormat. Oleh karenanya, pendidikan sastra di sekolah-sekolah kita harus ditingkatkan dan difokuskan ke arah upaya meningkatkan apresiasi sastra, sehingga anak-anak sejak kecil terdorong untuk bersemangat mengenal karya-karya sastra dengan serius.

Begitu lantang sejarah telah bercerita tentang bibit ketidakjujuran di bangsa ini. Akankah ketidakjujuran tersebut terus diwariskan? Sastra telah mengungkapnya dengan lantang, mari kembali bangkitkan dunia sastra untuk mengecam tindak korupsi dan mulai memeranginya. Kampanye antikorupsi dan kritik sosial lain yang menggema dalam karya sastra, diharapkan menjadi inspirasi terbukanya ruang kesadaran elite politik negeri ini untuk memperbaiki kinerja dan mengayomi rakyat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar