Selasa, 22 Oktober 2013

Masterpiece Taman Ujung

Senja menjatuhkan gerimis patah-patah yang membuat semakin meronanya jalanan di sekitar desa Ujung, Tumbu-Karangasem Bali. Hawa legang ditambah hiruk pikuk aktivitas sore makin memanjakan mata yang memandang. Sesaat lagi perjalanan ini akan bermuara pada sebuah tempat yang dielukan kaum dunia sebagai istana air, sebuah mahakarya, masterpiece arsitektur.
Decak kagum terus saja mengalir dari penikmat wisata kali ini, baik domestik maupun wisatawan asing. Berusaha mencari tempat yang agak tinggi dengan harapan bisa menikmati pesona Taman Ujung ini di segala arah.  Konsep yang sederhana, sebuah taman yang dikelilingi ribuan percikan air serta bangunan-bangunan khas zaman kerajaan yang pernah berjaya di masanya. Mahakarya yang merupakan salah satu karya unggulan yang dihasilkan Putra Bali terbaik pada abad ke-20, kini dikenal sebagai objek wisata Taman Soekasada Ujung.
Pengunjung mulai mencari celah di antara perbukitan sambil menikmati semilir yang sayup-sayup menidurkan tubuh oleh pesona alam yang natural. Made ngurah (49) kala itu menuturkan banyak hal yang ia ketahui tentang mahakarya yang ada dihadapan kami. Secangkir kopi hangat ditambah klaudan (jajanan khas dusun Ujung) menemani kami menikmati lika-liku sejarah Taman Ujung.
Taman ini adalah salah satu bukti historis monumental dari kebesaran Kerajaan Karangasem di masa lalu. Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan arkeologis-historis dapat diketahui bahwa taman ini adalah sebuah contoh hasil akulturasi budaya yang serasi antara arsitektur tradisional lokal (Bali) dengan arsitektur Eropa, yang memancarkan kearifan lokal (local genius). Keunikan lainnya secara historis, bahwa karya ini dihasilkan dalam masa-masa pergolakan (transisi) antara kerajaan di Bali dan suasana penjajahan oleh pihak Hindia Belanda.
Kepiawaian Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, Raja Karangasem dengan kemampuan teknis-arsitektural dan estetik, telah berhasil memanfaatkan bentang alam dan lingkungan di sekitarnya yang berteras-teras, dengan gunung-gunung sebagai latar belakang alami, sumber air, sungai-sungai dan pesisir Pantai Ujung. Dalam pembangunan taman ini, sang raja kemungkinan besar telah menggunakan konsepsi kosmologi masyarakat Bali sebagai landasan ideologis.
Secara kosmologis, pesisir pantai atau laut adalah bagian hilir atau muara (tebenan), adalah tempat menunggalnya segala kekuatan magis yang berasal dari gunung atau bukit, yang k emudian mengalir ke hilir melalui sungai-sungai, seakan-akan secara simbolis membagi-bagikan air kehidupan kepada masyarakat. Selain itu, gunung adalah bagian hulu (luwanan) yang punya kekuatan adikodrati yang tak tertandingi. Sebaliknya, gunung juga tak selamanya merupakan kekuatan alam yang ramah, karena dapat menimbulkan bencana besar secara tiba-tiba, jika ekosistemnya terganggu. Menurut kosmologi masyarakat Bali dan juga masyarakat lainnya di nusantara, gunung adalah dunia arwah para leluhur yang punya kekuatan magis, yang dapat memberikan pengaruh baik-buruk kepada kaum kerabat atau masyarakat yang masih hidup. Dengan dasar ideologi ini, maka Taman Ujung dapat juga disebut sebagai 'Water Palace' yang menyandang makna simbolis-magis-religius seperti yang tampak juga pada lambang kerajaan, yaitu Amerta Jiwa.
Karya Seni sebagai Peradaban
Berdirinya Taman Ujung menjadi awal perabadan dan kehidupan baru warga Karangasem. Taman Soekasada Ujung dibangun oleh Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem dengan melibatkan arsitek Belanda yang bernama Van Den Hentz dan seorang arsitek Cina bernama Loto Ang, dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1921. Taman ini digunakan sebagai tempat peristirahatan raja selain Taman Tirtagangga, dan juga diperuntukkan sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting seperti raja-raja atau kepala pemerintahan asing yang berkunjung ke Istana kerajaan Karangangasem. Pada tahun 1937 taman ini diresmikan dengan upacara ‘mahligya’ yang ditandai dengan sebuah prasasti dari batu marmer yang ditulis huruf latin dan bahasa Indonesia, kemudian di tempatkan di Balai Warak. Di sisi lain, taman ini menjadi lebih signifikan lagi karena berada dalam bingkai segitiga sosiokultural Tirta Gangga, Puri Karangasem, dan Taman Ujung.
Sempat jadi Kenangan
Keindahan taman Ujung yang cukup legendaris di masanya, sempat menjadi kenangan akibat gempa bumi dan faktor alamiah yang tidak dipedulikan secara layak telah memporak-porandakan bangunannya. Pun ketika Gunung Agung meletus pada 1963, kemudian gempa bumi Seririt pada 1976 yang tidak terditeksi sebelumnya meluluhkan keagungan taman ini. Hanya potret bangunan kumuh yang tersisa sebagai habitat lumut kerak, pisang, serta semak belukar. Rasa ‘jengah’ untuk membangun kembali warisan adiluhur itu kembali bangkit yang dimotori warga dan pemerintah setempat. Berangsur kepiluan ini terobati, sehingga pelestarian taman yang dibiayai Bank Dunia dan Dana Pendamping dari Pemkab Karangasem, telah dilaksanakan pada 2002. Pemugaran dilakukan dengan tidak menimbulkan kesan seperti seluruhnya adalah bangunan baru. Untuk menjaga nilai-nilai arkeologis-historis taman ini, diusahakan agar nanti penampilannya mendekati atau menyerupai aslinya dengan ciri-ciri atau dengan wajah yang bernuansa arkhaik. Dengan upaya pelestarian seperti itu, diharapkan Taman Ujung akan 'hidup kembali' sebagai bukti dan saksi sejarah yang penting, yang sekaligus juga merupakan aset kultura-historis potensial.
Harmonisasi Alam dan Seni

Salah satu bangunan yang paling menarik perhatian pengunjung adalah Bale Gili atau Bale Kambang. Di balai ini, wisatawan bisa melihat foto-foto Raja Karangasem serta anggota keluarga kerajaan. Ada juga foto suasana Taman Ujung Karangasem tempo dulu. Di balai yang dulunya berfungsi sebagai tempat istirahat keluarga raja, pengunjung juga bisa melihat sebuah tempat tidur antik yang dulunya menjadi tempat istirahat Raja Karangasem. Di balai ini juga terdapat ruang keluarga raja lengkap dengan kursi serta mejanya. Puas melihat bangunan di Balai Gili atau Balai Kambang, pengunjung bisa melihat bangunan Balai Kapal, yang terletak di atas ketinggian. Untuk mencapai bangunan Balai Kapal yang tinggal reruntuhan ini, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga. Dari bangunan Balai Kapal yang terletak di atas dataran tinggi ini, para wisatawan yang datang bisa melihat landscape atau pemandangan Taman Ujung secara keseluruhan.  Di sebelah Utara taman di atas bukit terdapat patung Warak yang besar di bawahnya patung banteng dan dari mulut kedua patung ini air memancur keluar menuju kolam. Dari puncak bukit ini kita dapat menyaksikan pemandangan alam yang betul-betul indah dan mengagumkan. Jauh di sebelah Timur Laut terlihat bukit Bisbis yang hutannya subur menghijau, di arah Selatan terlihat laut luas membentang dan di sekitar Taman terlihat petak-petak sawah menghijau perpaduan alam pegunungan dan alam laut inilah yang merupakan daya tarik taman ini bagi para wisatawan. “Sejak jadi objek wisata, Ujung menjadi harapan keluarga tyang, jual ikan bakar dan jagung bakar sambil bercerita sejarah Ujung dapat menambah penghasilan tyang”, ungkap Made Wira (46), seorang pedagang asongan yang merangkap pelipur lara. Harmoni alam yang memuaskan batin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar