Senja menjatuhkan gerimis patah-patah yang membuat semakin meronanya
jalanan di sekitar desa Ujung, Tumbu-Karangasem Bali. Hawa legang ditambah
hiruk pikuk aktivitas sore makin memanjakan mata yang memandang. Sesaat lagi
perjalanan ini akan bermuara pada sebuah tempat yang dielukan kaum dunia
sebagai istana air, sebuah mahakarya, masterpiece arsitektur.
Decak kagum terus saja mengalir dari penikmat wisata kali ini, baik
domestik maupun wisatawan asing. Berusaha mencari tempat yang agak tinggi
dengan harapan bisa menikmati pesona Taman Ujung ini di segala arah.
Konsep yang sederhana, sebuah taman yang dikelilingi ribuan percikan air serta
bangunan-bangunan khas zaman kerajaan yang pernah berjaya di masanya. Mahakarya
yang merupakan salah satu karya unggulan yang dihasilkan Putra Bali terbaik
pada abad ke-20, kini dikenal sebagai objek wisata Taman Soekasada Ujung.
Pengunjung mulai mencari celah di antara perbukitan sambil menikmati
semilir yang sayup-sayup menidurkan tubuh oleh pesona alam yang natural. Made
ngurah (49) kala itu menuturkan banyak hal yang ia ketahui tentang mahakarya
yang ada dihadapan kami. Secangkir kopi hangat ditambah klaudan (jajanan khas
dusun Ujung) menemani kami menikmati lika-liku sejarah Taman Ujung.
Taman ini adalah salah satu bukti historis monumental dari kebesaran
Kerajaan Karangasem di masa lalu. Berdasarkan hasil-hasil penyelidikan
arkeologis-historis dapat diketahui bahwa taman ini adalah sebuah contoh hasil
akulturasi budaya yang serasi antara arsitektur tradisional lokal (Bali) dengan
arsitektur Eropa, yang memancarkan kearifan lokal (local genius). Keunikan
lainnya secara historis, bahwa karya ini dihasilkan dalam masa-masa pergolakan
(transisi) antara kerajaan di Bali dan suasana penjajahan oleh pihak Hindia
Belanda.
Kepiawaian Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem, Raja Karangasem
dengan kemampuan teknis-arsitektural dan estetik, telah berhasil memanfaatkan
bentang alam dan lingkungan di sekitarnya yang berteras-teras, dengan
gunung-gunung sebagai latar belakang alami, sumber air, sungai-sungai dan
pesisir Pantai Ujung. Dalam pembangunan taman ini, sang raja kemungkinan besar
telah menggunakan konsepsi kosmologi masyarakat Bali sebagai landasan
ideologis.
Secara kosmologis, pesisir pantai atau laut adalah bagian hilir atau muara
(tebenan), adalah tempat menunggalnya segala kekuatan magis yang berasal dari
gunung atau bukit, yang k emudian mengalir ke hilir melalui sungai-sungai,
seakan-akan secara simbolis membagi-bagikan air kehidupan kepada masyarakat.
Selain itu, gunung adalah bagian hulu (luwanan) yang punya kekuatan adikodrati
yang tak tertandingi. Sebaliknya, gunung juga tak selamanya merupakan kekuatan
alam yang ramah, karena dapat menimbulkan bencana besar secara tiba-tiba, jika
ekosistemnya terganggu. Menurut kosmologi masyarakat Bali dan juga masyarakat
lainnya di nusantara, gunung adalah dunia arwah para leluhur yang punya
kekuatan magis, yang dapat memberikan pengaruh baik-buruk kepada kaum kerabat
atau masyarakat yang masih hidup. Dengan dasar ideologi ini, maka Taman Ujung
dapat juga disebut sebagai 'Water Palace' yang menyandang makna
simbolis-magis-religius seperti yang tampak juga pada lambang kerajaan, yaitu
Amerta Jiwa.
Berdirinya Taman Ujung menjadi awal perabadan dan kehidupan baru warga
Karangasem. Taman Soekasada Ujung dibangun oleh Anak Agung Agung Anglurah Ketut
Karangasem dengan melibatkan arsitek Belanda yang bernama Van Den Hentz dan
seorang arsitek Cina bernama Loto Ang, dan diresmikan penggunaannya pada tahun
1921. Taman ini digunakan sebagai tempat peristirahatan raja selain Taman
Tirtagangga, dan juga diperuntukkan sebagai tempat menjamu tamu-tamu penting
seperti raja-raja atau kepala pemerintahan asing yang berkunjung ke Istana
kerajaan Karangangasem. Pada tahun 1937 taman ini diresmikan dengan upacara
‘mahligya’ yang ditandai dengan sebuah prasasti dari batu marmer yang ditulis
huruf latin dan bahasa Indonesia, kemudian di tempatkan di Balai Warak. Di sisi
lain, taman ini menjadi lebih signifikan lagi karena berada dalam bingkai
segitiga sosiokultural Tirta Gangga, Puri Karangasem, dan Taman Ujung.
Sempat jadi Kenangan
Keindahan taman Ujung yang cukup legendaris di masanya, sempat menjadi
kenangan akibat gempa bumi dan faktor alamiah yang tidak dipedulikan secara
layak telah memporak-porandakan bangunannya. Pun ketika Gunung Agung meletus
pada 1963, kemudian gempa bumi Seririt pada 1976 yang tidak terditeksi
sebelumnya meluluhkan keagungan taman ini. Hanya potret bangunan kumuh yang
tersisa sebagai habitat lumut kerak, pisang, serta semak belukar. Rasa ‘jengah’
untuk membangun kembali warisan adiluhur itu kembali bangkit yang dimotori
warga dan pemerintah setempat. Berangsur kepiluan ini terobati, sehingga
pelestarian taman yang dibiayai Bank Dunia dan Dana Pendamping dari Pemkab
Karangasem, telah dilaksanakan pada 2002. Pemugaran dilakukan dengan tidak
menimbulkan kesan seperti seluruhnya adalah bangunan baru. Untuk menjaga
nilai-nilai arkeologis-historis taman ini, diusahakan agar nanti penampilannya
mendekati atau menyerupai aslinya dengan ciri-ciri atau dengan wajah yang
bernuansa arkhaik. Dengan upaya pelestarian seperti itu, diharapkan Taman Ujung
akan 'hidup kembali' sebagai bukti dan saksi sejarah yang penting, yang
sekaligus juga merupakan aset kultura-historis potensial.
Harmonisasi Alam dan Seni
Salah satu bangunan yang paling menarik perhatian pengunjung adalah Bale
Gili atau Bale Kambang. Di balai ini, wisatawan bisa melihat foto-foto Raja
Karangasem serta anggota keluarga kerajaan. Ada juga foto suasana Taman Ujung
Karangasem tempo dulu. Di balai yang dulunya berfungsi sebagai tempat istirahat
keluarga raja, pengunjung juga bisa melihat sebuah tempat tidur antik yang
dulunya menjadi tempat istirahat Raja Karangasem. Di balai ini juga terdapat
ruang keluarga raja lengkap dengan kursi serta mejanya. Puas melihat bangunan
di Balai Gili atau Balai Kambang, pengunjung bisa melihat bangunan Balai Kapal,
yang terletak di atas ketinggian. Untuk mencapai bangunan Balai Kapal yang
tinggal reruntuhan ini, pengunjung harus menaiki puluhan anak tangga. Dari
bangunan Balai Kapal yang terletak di atas dataran tinggi ini, para wisatawan
yang datang bisa melihat landscape atau pemandangan Taman Ujung secara
keseluruhan. Di sebelah Utara taman di atas bukit terdapat patung Warak yang
besar di bawahnya patung banteng dan dari mulut kedua patung ini air memancur
keluar menuju kolam. Dari puncak bukit ini kita dapat menyaksikan pemandangan
alam yang betul-betul indah dan mengagumkan. Jauh di sebelah Timur Laut
terlihat bukit Bisbis yang hutannya subur menghijau, di arah Selatan terlihat
laut luas membentang dan di sekitar Taman terlihat petak-petak sawah menghijau
perpaduan alam pegunungan dan alam laut inilah yang merupakan daya tarik taman
ini bagi para wisatawan. “Sejak jadi objek wisata, Ujung menjadi harapan
keluarga tyang, jual ikan bakar dan jagung bakar sambil bercerita sejarah Ujung
dapat menambah penghasilan tyang”, ungkap Made Wira (46), seorang pedagang
asongan yang merangkap pelipur lara. Harmoni alam yang memuaskan batin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar