Galungan dan serentet tradisi uniknya mengundang rasa ingin tahu warga
untuk melihat dan mendengar sejarah lisan tentang budaya Bali. Hari suci
Hindu yang datang setiap enam bulan sekali selalu menghadirkan senyum sumringah
bagi masyarakat Bali maupun di luar Bali. Tidak jarang bertepatan dengan hari
suci Galungan ini wisatawan domestik dan mancanegara berlomba mencari sudut
terindah untuk memandang kekhidmatan iringan banten dan segerombol warga yang
secara bersama-sama menuju pura.
Sebanyak 44 kali telah saya jumpai Galungan di Bali. Perubahan itu selalu
ada menghias budaya Bali, termasuk dalam merayakan hari suci Galungan. Sarana
pembuat penjor, salah satunya. Dahulu biasa digunakan janur dan hiasan ala
kadarnya. Namun, di seputaran kota Denpasar dan Gianyar, penjor yang berdiri
tegak menjulang begitu indahnya. Hiasan modern dengan pernak-pernik mengagumkan
menjadi fokus mata yang memandang. Tidak berlebihan kiranya apabila pembuatan
penjor ini selalu dinanti warga.
Ada satu sisi yang tidak berubah di hari Galungan yang saya amati di kota
Karangasem, tepatnya desa Ababi. Sebuah tradisi bersahaja yang membuat warga
desa hidup berdampingan dalam damai. Ya..tradisi ngejot (Dharma Santhi) di hari
Galungan. Di Bali, ngejot artinya memberikan sesuatu (umumnya makanan) kepada
orang lain ketika seseorang mempunyai hajatan atau pada saat hari raya
tertentu. Tradisi ngejot ini adalah salah satu bukti nyata bahwa tolong
menolong dan saling berbagi masih bernafas begitu panjang. Ngejot ketika hari
raya seperti Galungan biasanya bersifat sukarela dan lebih menyesuaikan situasi
dan kondisi. Kecendrungan lain yang tampak di desa ini adalah berlakunya
tradisi ngejot bukan hanya untuk umat Hindu saja, melainkan untuk umat
non-Hindu juga menerima jotan. Semua itu dapat bertahan hanya karena satu
landasan yaitu ikhlas. Sangat indah perbedaan itu bukan?
Tradisi ini masih hidup di tengah persaingan pasar modern yang begitu
dahsyat. Cara instan seperti mengirim parsel, bingkisan, atau lainnya tidak
lantas menghilangkan tradisi leluhur desa. Ngejot memang sudah lumrah, namun
saya yakin anak cucu zaman ini jarang atau bahkan tidak pernah melihat melihat
tradisi ini. Sebuah tradisi yang sering dianggap kuno dan tidak efektif
ternyata mampu membangkitkan rasa peduli juga mau berbagi. Berbeda dengan
parsel atau bingkisan buah dan makanan, ngejot ini tidak boleh diwakilkan atau
dikirim lewat pos. Orang yang ngejot harus datang bersilaturahmi kepada sanak
saudara atau kerabat sembari berbincang tentang hidup dan maknanya.
Ketika warga desa ingin ngejot, saya juga melihat mereka membawa serta
anak-anak mereka untuk menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi ngejot itu
dijaga begitu indahnya. Jangan sampai niat dan cara instan, nantinya
menimbulkan keengganan generasi selanjutnya untuk meneruskan tradisi ngejot
ini. Tak ada satu warga desapun yang menghitung berapa untung atau rugi dari
aktivitas ngejot ini, karena mereka yakin setiap jejak berbagi yang mereka
lakoni, surat tugasnya ditandatangi langsung oleh Yang Maha Kuasa (Ida Hyang
Widhi Wasa).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar