Senin, 21 Oktober 2013

"SENI" DALAM MABUK

Memang benar orang luar sering menyebut orang Bali itu kreatif. Jiwa seni orang Bali sudah dibawa sejak lahir, entah siapa yang mengasahnya di dalam kandungan. Akar pohon bisa menjadi patung yang mampu dijual puluhan juta rupiah. Orang mabuk pun bisa mengeluarkan jenis musik yang enak didengar. Di mana ada orang mabuk bisa menyanyi kecuali di Bali? Itulah sejarah seni koor (jenis paduan suara) khas Bali yang disebut genjek. Empat atau lebih lelaki Bali bersepakat untuk mabuk. Mereka membeli tuak atau arak (mungkin bir terlalu mahal atau daya mabuknya kurang) lalu berkumpul minum bersama. Acara matuakan ini khas di Bali Timur (Karangasem, Bangli, Klungkung) dan sebagian Bali Utara (Buleleng) meskipun tidak begitu lazim di Kabupaten Jembrana, Tabanan dan Badung. 
Dalam acara mabuk massal yang digelar di Kabupaten Gianyar, pada sabtu, 5 Juni 2010 ini semua orang bisa ngoceh, ngomong apa adanya. Mungkin karena naluri orang Bali sudah begitu dekat dengan dunia seni, ngoceh itu kemudian berirama, sahut-bersautan, dan lama-kelamaan bisa diatur bunyinya. Seni genjek pun lahir, dan pada awalnya memang pendukung seni ini hanya bisa melampiaskan suara dengan sempurna ketika dia mabuk. Jika orang belum mabuk, dia belum berani ikut bernyanyi dengan keras, masih malu-malu, dan teman sebelahnya pasti menyodorkan minuman lebih banyak.Masuknya industri rekaman membuat kesenian ini menjadi terangkat. Seperti halnya musik rap di Amerika yang berawal dari pemabuk yang ngoceh, genjek segera menjadi sebuah industri yang mendatangkan duit bagi senimannya dan mendatangkan untung bagi produser rekaman. Karena seni ini berawal dari Bali Timur, maka genjek Karangasem mendominasi rekaman kaset. Syair pun berkembang. Tidak lagi hanya kehidupan rumah tangga: suami penjudi, suami selingkuh, dan sebagainya. Namun mulai merambah ke tema sosial, seperti basmi narkoba. Iringan musik angklung dalam seni genjek kemudian menimbulkan   inspirasi, bagaimana kalau paduan suara ini diselingi dengan tarian joged. Ide ini berkembang di Bali Utara dan kemudian merambah ke kabupaten lainnya. Dalam pakem seni genjek, sebuah syair akan diakhiri dengan suara serempak: tu ra rit tu jreng …sek…sek… atau irama sejenis itu, yang kemudian musik lalu diambil alih sepenuhnya oleh musik angklung. Nah, di situlah penari joged ditampilkan. Ini tabuh joged yang umum sehingga semua penari joged bisa mengapresiasi musik ini. Grup genjek dari mana pun dan penari joged asal mana pun bisa berkaloborasi. Fenomena tersebut yang melatar belakangi seni genjek berkembang begitu pesat di daerah tujuan pariwisata seperti kawasan Gianyar, dan sekitarnya.
Ada orang kreatif lain, yang tentu saja tidak sedang mabuk, menciptakan syair-syair yang nadanya disesuaikan dengan seni mabuk tadi. Maka dalam perjalanannya seni genjek ini punya syair yang bisa bercerita, meski terbatas pada kehidupan rumah tangga. Namun, musiknya tetap musik mulut dengan pembagian tugas yang jelas: ada yang menyanyi, ada yang menirukan suara kendang, menirukan suara kempul, dan sebagainya. Semua nada dalam gamelan gong Bali dibunyikan dari mulut-mulut pemabuk ini. Kreativitas pun terus berjalan. Masuk para wanita yang ikut menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged. Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, karena mereka kemudian sadar bahwa genjek tidak lagi seni untuk pemuas diri sendiri, seni genjek sudah bisa dijual untuk pemuas orang lain. Seni genjek akhirnya resmi menjadi seni tontonan yang tercatat dalam sejarah seni pertunjukan Bali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar