Memang benar orang luar
sering menyebut orang Bali itu kreatif. Jiwa seni orang Bali sudah dibawa sejak
lahir, entah siapa yang mengasahnya di dalam kandungan. Akar pohon bisa menjadi
patung yang mampu dijual puluhan juta rupiah. Orang mabuk pun bisa mengeluarkan
jenis musik yang enak didengar. Di mana ada orang mabuk bisa menyanyi kecuali
di Bali? Itulah sejarah seni koor (jenis paduan suara) khas Bali yang disebut
genjek. Empat atau lebih lelaki Bali bersepakat untuk mabuk. Mereka membeli
tuak atau arak (mungkin bir terlalu mahal atau daya mabuknya kurang) lalu
berkumpul minum bersama. Acara matuakan ini khas di Bali Timur (Karangasem,
Bangli, Klungkung) dan sebagian Bali Utara (Buleleng) meskipun tidak begitu
lazim di Kabupaten Jembrana, Tabanan dan Badung.
Ada
orang kreatif lain, yang tentu saja tidak sedang mabuk, menciptakan syair-syair
yang nadanya disesuaikan dengan seni mabuk tadi. Maka dalam perjalanannya seni
genjek ini punya syair yang bisa bercerita, meski terbatas pada kehidupan rumah
tangga. Namun, musiknya tetap musik mulut dengan pembagian tugas yang jelas:
ada yang menyanyi, ada yang menirukan suara kendang, menirukan suara kempul,
dan sebagainya. Semua nada dalam gamelan gong Bali dibunyikan dari mulut-mulut
pemabuk ini. Kreativitas pun terus berjalan. Masuk para wanita yang ikut
menyanyi, supaya sahut-menyahut dalam lagu menjadi lebih hidup. Tiba-tiba masuk
pula alat tabuh angklung bambu (gerantangan) yang biasa mengiringi tari joged.
Maka seni genjek mengalami perjalanan yang demikian cepat, dari seni mabuk
menjadi seni koor khas Bali dengan irama yang demikian enerjik. Apalagi unsur
mabuknya kemudian berangsur dihilangkan, karena mereka kemudian sadar bahwa
genjek tidak lagi seni untuk pemuas diri sendiri, seni genjek sudah bisa dijual
untuk pemuas orang lain. Seni genjek akhirnya resmi menjadi seni tontonan yang
tercatat dalam sejarah seni pertunjukan Bali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar